Rabu, 24 November 2010

Kisah mbok Sobariyah

Kisah nyata ini terjadi disalah satu desa di pulau Madura. Seorang nenek yang hidup sendiri tanpa sanak keluarga, suami sudah meninggal demikian pula kerabat dan sanak saudaranya. Sedangkan keturunan tidak ada, demikian Allah SWT memberikan cobaan.
Kehidupan si Nenek, sebut saja mbok Sobariyah, secara rutin setiap pagi dini hari memetik bunga di kebun tetangga, lalu dibawanya ke pasar untuk dijual, hasilnya untuk membeli bahan makanan yang ia perlukan. Dalam perjalanan dari rumah ke pasar ia selalu singgah disebuah musholla untuk sholat subuh, setelah mendengar kultum, lalu melanjutkan perjalanan ke pasar. Demikian pula sebaliknya, sepulang dari pasar ia mampir untuk sholat dzuhur. Kebiasaan si Nenek setelah sholat Dzuhur, istirahat sejenak menghilangkan penat pinggangnya, lalu ia menyapu halaman musholla tersebut, hingga sholat Ashar tiba, setelah ikut sholat berjamaah, kemudian ia pulang ke rumahnya.
Hari ini ada yang berbeda,  para takmir / marbot musholla tersebut dibuat kebingungan kalang kabut karena terlihat si Nenek menangis meraung-raung disudut musholla tanpa bisa dihentikan. Segala daya upaya sudah dikeluarkan untuk membukuk si Nenek supaya menghentikan tangisnya.
Akhirnya kyai / ustadz musholla tersebut keluar dari ruangannya, menanyakan kepada para marbot: “ada apa gerangan si Nenek ini menangis? Kamu ganggu ya?”
Para Marbot: “tidak pak kyai…..kami selalu menghormati dan menyayangi si nenek ini koq pak kyai”!!!
Sambil mendekat ke si nenek, pak Kyai,tanya:” ada masalah apa gerangan Nek? Apa Nenek belum makan? Apa Nenek sakit? dsb pertanyaan yang sama yang sudah ditanyakan oleh para marbot.
 Disela sesenggukannya,si Nenek berujar: jauhkan anak2 marbot itu, nanti kujawab pertanyaan pak Kyai!
 Setelah tinggal duduk berdua, tangis si Nenek mereda lalu berkata: “pak Kyai, mohon bapak sudi berjanji sebelum kujelaskan semuanya”!!!
Pak Kyai: “janji apa ya Nek?”
Si Nenek: “pak Kyai, berjanjilah jangan menceritakan apa yang akan kusampaikan ini, sampai nanti aku mati…… berjanjilah”!!!
Pak Kyai: “baiklah Nek, saya berjanji!!! Emangnya kenapa koq Nenek menangis seperti tadi?”
“Begini, setelah sholat dzuhur tadi saya melihat halaman musholla ini sudah bersih tidak ada dedaunan seperti biasanya, jadi saya tidak bisa membersihkan lagi!!!”
“Lho…kan itu berarti Nenek bisa istirahat lebih panjang untuk melepas penat dan bisa tidur siang”
Merah padam muka si Nenek lalu berteriak, sehingga pak Kyai terjengkang kaget: “Itu jatahku!!!”
“Maksud Nenek jatah apaan?” pak Kyai kebingungan.
“Ya, yapuin halaman ini adalah jatahku!!!” masih dengan nada tinggi.
“Lho,kan para marbot musholla ini sudah dibayar / diupah untuk mengelola musholla ini supaya terjaga rapi bersih dan asri……kenapa Nenek bilang menyapu halaman musholla ini tugas Nenek?”
Seketika si Nenek  meraung-raung menangis lagi, membuat pak Kyai kalang kabut.
“…tidak….itu jatahku, itu jatahku…….” Disela sedu sedan tangis si Nenek.
“sudah….sudah….stop nangisnya Nek….; Kan Nenek sudah cukup berumur, para marbot tidak tega melihat Nenek me-nyapu halaman yang cukup luas ini, biarkan mereka yang mengerjakannya, Nenek bisa mengerjakan yang lain yang lebih ringan.”
“…tidak….itu jatahku, itu jatahku…….” Tambah keras tangis si Nenek.
“cup….cup….cup…..; sudah Nek……terus maunya Nenek apa?
“Biarkan halaman ini menjadi ladang amalku, jangan diganggu-ganggu!!!”
“maksud Nenek???” pak Kyai terheran-heran.
Sambil menengok ke kiri ke kanan, dan yakin tidak ada orang yang dekat dengan dia, si Nenek berbisik perlahan: “setiap daun yang kujumput, aku bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW: yaa nabi salam alaika….yaa rosul salam alaiaka……. Nah setelah daun ku masukkan tempat sampah: yaa nabi….. salam alaika……sholawatullah alaika……”
Pak Kyai termangut-manggut, tersadar seolah-olah baru dibangunkan dari tidurnya. Betapa besar cinta si Nenek ini kepada baginda Rosul, betapa dirinya yang selalu menjadi imam disetiap sholat di Musholla tersebut “belum” mencintai baginda rosul sebagaimana cinta si Nenek. Pak Kyai bergumam: “betapa nistanya diriku ini???” dalam khotbah dan ceramahnya sering dia menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi Muhammad SAW diantaranya kisah sbagai berikut:
Selesai salam, tidak seperti biasanya Rasul berdzikir, tapi beliau bergumam : subhahanallah…. Subhahanallah…… subhahanallah…… berkali-kali. Para jamaah yang menjadi makmum terheran-heran dan ada yang memberanikan bertanya: Ya baginda Rosul,……apakan baginda sedang sakit atau demam?”
“tidak…tidak…., saya sehat wal afiat”
“Lalu kenapa baginda bergumam seperti sedang demam demikian?”
“aku baru saza diperlihatkan oleh Jibril AS, betapa luar biasanya umatku”
“Apakah itu kami yang mendampingimu dalam suka dan duka, baginda?”
“Bukan…bukan….!!!”
“ apakah itu, para ahli waris / keturunan baginda?”
“Bukan…bukan….!!!”
“Lalu siapakah yang baginda maksudkan?”
“Itulah umatku yang tidak pernah bertemu denganku, tidak pernah bertemu dengan ahli keturunanku, belum pernah kenal dengan sanak saudara, kerabat dan sahabat2ku, namun umatku tersebut sangat mencintaiku, selalu bershalawat dan mendoakan diriku; Allah SWT menjanjikan surga baginya yang dekat dengan surgaku”
Kembali kepada si Nenek dan pak Kyai di Madura tadi; setelah tersadar dari lamunannya pak Kyai berujar:”baiklah Nek, itu jatah Nenek untuk menyapu halaman ini. Dan saya berjanji untuk menyimpan rahasia ini, supaya Nenek lebih khusyuk saat bersholawat dan tidak diganggu oleh para marbot.”
Sekarang, si Nenek mbok SoSobariyah sudah wafat, jadi hal ini boleh diceritakan dan dipergunakan oleh pak Kyai untuk mengajari para marbot agar setiap mengepel lantai musholla selalu ber-sholawat, mencuci kamar mandi sambil ber-sholawat, menyapu halaman sambil ber-sholawat…..dan para santri di musholla tersebut sangat pandai bersenandung:
yaa nabi salam alaika….yaa rosul salam alaiaka…….
yaa nabi…… salam alaika……sholawatullah alaika……”
Semoga almarhumah nenek SoSobariyah bisa tenang di alam barzah, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al- Fajr ayat 27~30:

Demikian kisah yang dibawakan dalam kultum Sabtu subuh di Masjid AL-Ikhlash BSD sektor 1-6 oleh bapak ustadz Ir.H. Ratmono.M.Sc pada awal bulan Dzulhijjah 1430H.
Semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

The Best Payment Processor.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.