Jumat, 02 Maret 2012

PERMEN

Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun untuk menghadiri  sebuah pesta ulang tahun temannya,  pestanya berlangsung sangat meriah  namun si orang ibu ini terus mengkomplain anaknya yang katanya tidak berani tampil dan pemalu.

Setiap diadakan perlombaan selalu ia mendorong-dorong anaknya untuk ikutan namun si anak tetap saja enggan untuk ikut.  Kalaupun terpaksa ikut anak ini kerap kali selalu kalah atau berada pada urutan terakhir dari perlombaan.

Si ibu yang penuh ambisi ini sepertinya merasa kecewa dengan tingkah laku anaknya yang demikian.  Lalu dia menceritakan betapa hebatnya ia waktu masih seusia anaknya dulu.  Ia bercerita bahwa dulu dirinya selalu berani mengikuti lomba. ia juga selalu menang dalam setiap perlombaan.   Dia terus saja bercerita dan terus membandingkan kehebatan dirinya dengan anaknya.

Sampai akhirnya pestapun usai,  pada saat hendak pulang tiba-tiba si tuan rumah menghampirinya….Hallo sayang.... terima kasih ya telah hadir diacara kami.... oh iya.... ini sebelum pulang kamu boleh ambil permen ini ayo silahkan ambil, ambilah dengan kedua tanganmu agar kamu dapat banyak.  Namun si anak diam saja sambil menatap pemen itu.  Si orang tua mulai gusar dan meminta anaknya untuk mengambil permen dengan kedua tangannya  namun kembali si anak tetap diam sambil menatap permen-permen itu.  Sampai akhirnya si tuan rumah mengambilkan permen itu dengan tangannya sendiri.

Sesampainya dirumah si orang tua kecewa dan mengeluh sambil mengomel, dia berkata begini:  Dasar kamu ini ya...., Cuma diminta ambil permen saja kok ya tidak berani,  mau jadi apa kamu nanti,   namun diluar dugaannya anaknya tiba-tiba menjawab,  aku bukan tidak berani mengambil mami tapi aku ingin mendapatkan permennya lebih banyak,  tangankukan kecil sedangkan tangan Tante tadikan jauh lebih besar, jadi aku tunggu saja biar dia yang mengambilkan untukku.

Begitulah kita para orang tua sering kali menghakimi anak kita dengan asumsi dan persepsi-persepsi kita yang sering kali sangat dangkal, padahal dibalik semua perilaku anak kita sering kali terdapat alasan yang luar biasa hebat dan kritisnya yang terkadang membuat kita berdecak kagum.  Kok bisa ya anak sekecil ini berpikir sekritis itu......

Mari kita berhenti untuk menghakimi anak-anak kita..., melainkan tanyalah mengapa mereka melakukan ini atau melakukan itu.... kelak anda akan dibuat terkagum-kagum oleh jawaban si kecil anda...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

The Best Payment Processor.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.