Kamis, 01 Maret 2012

Kekerasan Pada Anak

Hallo... Orang tua yang berbahagia dan sahabat parenting club apa khabarnya?

Para orang tua yang berbahagia belakangan ini saya sungguh prihatin melihat kejadian demi kejadian kekerasan orang tua kepada anak yang berhasil diliput dan ditayangkan oleh media televisi. Sebenarnya sangat sulit diterima oleh akal bahwa kita sebagai manusia bisa bertindak sekeji itu pada anak-anak yang usianya masih relatif dini.

Sungguh aneh tapi nyata, kata seorang teman bercerita pada saya, bahkan jika kita perhatikan binatang yang paling liar di hutan Afrika sekalipun tidak pernah ada yang menyiksa anaknya. Namun demikian marilah kita mencoba untuk tidak saling menyalahkan namun lebih berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Mari kita gali fenomena ini dan mari kita kaji secara lebih ilmiah.

Para orang tua dan sahabat parenting yang berbahagia..... Jika kita berbicara tentang bagaimana manusia bereaksi terhadap sesuatu maka itu artinya kita tak lepas untuk membicarakan tentang susunan dan fungsi kerja otak. Karena berdasarkan hasil riset otak, seluruh perilaku dan gerak-gerik seseorang seluruhnya dikendalikan oleh otaknya. Otak adalah Pusat Operasi dari setiap reaksi manusia baik yang disadari ataupun yang tidak disadarinya.

Sahabat Parenting mari kita tinjau lebih dalam lagi tentang otak kita. Berdasarkan susunanannya, secara sederhana otak kita terbagi kedalam 3 tingkatan. Tingkatan pertama adalah otak reptil, yakni otak yang mengatur tentang fungsi-fungsi dasar kehidupan, oleh kerenanya otak ini sering juga disebut sebagai The Basic Insting. Fungsi utama dari otak reptil ini adalah untuk mengatur sistem otomatis yang ada ditubuh seperti suhu tubuh, detak jantung, sistem pernafasan, termasuk juga seluruh gerak reflek terhadap ancaman yang biasanya diwujudkan dalam bentuk penyerangan atau penghindaran.

Tingkatan kedua otak manusia adalah Otak Mamalia atau otak Korteks. Otak Mamalia ini mengatur fungsi memori dan sebagian besar fungsi-fungsi emosi baik positif maupun negatif. Fungsi kerja otak Mamalia ini terutama adalah sebagai alat sensor terhadap reaksi yang diterima oleh seseorang dari pihak lain baik yang bersifat ancaman atau kegembiraan.

Dan tingkatan yang ketiga adalah otak Neo Korteks atau otak Berpikir Tingkat tinggi. Otak ini menangani proses berpikir tingkat tinggi manusia baik berpikir kreatif ataupun berpikir logika. Otak berpikir Tingkat Tinggi ini sesungguhnya adalah anugerah terbesar Tuhan pada manusia. Karena hanya manusialah yang memilikinya secara sempurna.

Otak berpikir ini terbaik menjadi Otak Kiri dan Otak Kanan. Otak kiri pada umumnya berfungsi sebagai berpikir Logika dan Otak Kanan berfungsi sebagai berpikir Kreatif.

Dengan kemampuan otak berpikir kreatif inilah maka manusia telah berhasil menciptakan peradaban yang semakin maju dari waktu ke waktu yang tidak tertandingi oleh mahluk lain yang ada dimuka bumi ini dan dengan berpikir logika manusia akan dapat menganalisis keputusan-keputusan yang tepat untuk pemecahan berbagai masalah yang dihadapinya. Mahluk lain yang tidak memiliki otak ini, tidak pernah bisa berpikir kreatif, sehingga jika kita perhatikan dari abad-keabad dunia binatang tidak pernah mengalami kemajuan peradaban bahkan ditingkat Primata sekalipun.

Sahabat Parenting lalu apa hubungannya dengan tindak kekerasan orang tua pada anaknya...?
Begini ceritanya. Mari kita bayangkan.... Lapis pertama otak kita adalah otak Reptil memiliki fungsi reaktif menghindar, bertahan dan menyerang. Lapis kedua otak kita adalah otak Mamalia. Fungsinya adalah sebagai sensor apakah kita akan mengaktifkan otak Reptil atau Otak berpikir kita. Jika ternyata otak Mamalia mengaktifkan otak Reptil maka reaksi-reaksi yang muncul tentu juga mirip dengan reaksi seekor binatang reptil dan apabila otak Mamalia kita mengaktifkan otak Berpikir maka reaksi-reaksi yang muncul adalah reaksi logis dan penuh kehati-hatian.

Setiap hari dalam setiap kejadian otak Mamalia kita terus melakukan sensor dengan menterjemahkan apakah ini sebagai ancaman atau kesenangan, apa bila kejadian tersebut bersifat ancaman dan telah membuat otak mamalia tertekan maka otak ini akan segera memerintahkan otak Reptil untuk aktif dan mengambil kendali lebih lanjut dalam bentuk perilaku-perilaku kekerasan namun apabila kejadian tersebut membuat otak mamalia merasa senang maka ia akan segera memerintahkan otak berpikir untuk aktif.

Dan perlu anda ketahui bahwa antara Otak Reptil dan Otak Berpikir Logis tidak pernah aktif secara bersamaan, melainkan satu sama lain saling bergantian. Itulah sebabnya apabila kita habis melakukan tindakan kekerasan sesudahnya pasti kita akan menyesalinya. Itu artinya pada saat anda melakukan kekerasan anda sedang mengkatifkan otak reptil dan pada saat anda menyesalinya berarti otak yang aktif telah berpindah ke otak Berpikir Tingkat Tinggi.

Jadi para orang tua yang cenderung melakukan kekerasan pada anak pada hakikatnya adalah orang tua yang sensor otak mamalianya terlatih untuk cenderung mengaktifkan otak reptilnya.

Para orang tua yang berbahagia...
Ada dua sebab utama mengapa seseorang cenderung mengaktifkan otak reptilnya dalam bereaksi terhadap perilaku anaknya:
  • Adalah pola didik yang diterapkan oleh orang tuanya dulu
Jika orang tua kita dulu keras terhadap kita maka kita akan punya kecenderungan keras terhadap anak kita. Begitu pula jika dulu orang tua kita sering memukul maka kitapun punya kecenderungan kuat untuk memukul anak kita.
  • Cara kita menanggapi situasi
akan sangat menentukan otak mana yang akan bekerja aktif. Misalnya, Jika ada perilaku anak kita yang kebetulan tidak sesuai dengan keinginan kita itu diterjemahkan sebagai suatu perlawanan, pembangkangan, kenakalan atau ketidakdisiplinan. Maka hasil terjemahan ini akan membuat kita kesal dan jika ini terus terjadi berulang-ulang maka kita akan segera naik pitam, pada kondisi ini kita punya kecenderungan kuat untuk memicu aktifnya otak reptil.

Namun jika sikap anak yang tidak sesuai dengan keinginan kita tadi diterjemahkan sebagai sebuah komunikasi yang sedang dilakukannya kepada orang tuanya bahwa cara yang mendidik yang diterapkan tidak cocok dengan dirinya secara pribadi maka anda tidak jadi kesal melainkan malah mencoba mengkoreksi atau mengevaluasi diri untuk bisa berbuat lebih baik.

Smart Listener...untuk lebih jelasnya anda bisa menyimak, cerita saya tentang mendidik tanpa kekerasan, yang mengisahkan bagaimana Orang Tua DR Arun Gandhi (anak dari Mahatma Gandhi), menterjemahkan setiap perilaku buruk anaknya, sebagai evaluasi diri dari perilaku dirinya........ Kisahnya sungguh sangat menginspirasi saya secara pribadi....

Sahabat Parenting....Lalu bagaimana solusinya......?

Mari kita bicara sedikit mengenai solusi untuk pola didik orang tua kita dimasa lalu.....? Smart Listener yang berbahagia .....Saya juga dulu juga pernah mengalami cara mendidik yang kurang cocok dengan diri saya pribadi, marilah kita maklumi dan maafkan orang tua kita agar kita tidak meneruskan tradisi ini pada anak kita. Sejak dulu tidak pernah ada sekolah tentang cara menjadi orang tua yang baik dan mungkin dulu orang tua kita juga telah mengalami kekerasan yang sama dari orang tuanya dan tidak pernah ada yang memberitahukan solusinya seperti kita saat ini.

Smart Listener......Jika bukan kita sekarang.... lalu siapa lagi yang akan menghentikan tradisi turun-temurun ini...? Nah....Sekarang mari kita berbicara tentang solusi cara kita menanggapi perilaku negatif anak kita.

Sahabat Parenting pernah datang kepada saya seorang Bapak yang mengaku kewalahan terhadap perilaku anaknya dan dia mengaku sudah mulai menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengendalikannya namun ternyata perilakunya malah semakin menjadi-jadi.

Wah....dalam hati saya tersenyum....kalo ini sepertinya Reptil Besar telah berhadapan dan bertarung dengan reptil yang lebih kecil namun sama kerasnya.

Smart Listener.... Lalu saya ceritakan hasil sebuah penelitian tentang ciri-ciri umum perilaku anak kepada si Bapak tadi. Saya jelasakan bahwa sesungguhnya setiap anak punya perilaku yang berbeda satu dengan lainnya dan bisa dikategorikan kedalam beberapa kelompok. 

Ternyata bahwa setiap perilaku anak yang ditunjukan pada kita sesungguhnya merupakan petunjuk-petunjuk dari Tuhan yang berhubungan dengan Keunggulan dirinya, Kecerdasan yang dimilikinya, Profesi dan peluang keberhasilan yang akan dicapai dimasa depannya kelak.

Wow....! Sungguh kaget luar biasa si Bapak ini mendengar penjelasan dari saya.....Bahkan saya ingat betul ia sempat mengkaitkan penjelasan saya dengan sebuah pesan Tuhan yang lebih kurang berbunyi; “Bahwa susungguhnya Tuhan tiada pernah menciptakan sesuatu secara sia-sia”.

Sahabat Parenting..... Sungguh saya sudah mempelajarinya dan memperhatikan setiap hari perilaku anak-anak saya. Dan ternyata salah satu perilaku anak yang dikeluhkan oleh si bapak tadi juga dimiliki oleh anak saya.

Saya ceritakan bahwa anak saya yang berusia 2 tahun lebih juga telah menunjukkan perilaku yang serupa...

Anak saya memiliki ciri-ciri perilaku yang mirip dengan anak si bapak tadi, keras, tidak mau kalah, suka memaksa, Suka mengatur sampai bahkan kita orang tuanyapun terkadang sering diaturnya, Tidak sabaran, Ingin disegerakan, suka memukul, teriakannya kerasnya luar biasa, tidak pernah bisa duduk diam, selalu melompat sana-sini, dsb.... Begitulah saya katakan ciri kelompok kedua dari Perilaku Umum Anak. Sebenarnya apa dibalik semua perilaku yang sering kali selalu kita konotasikan sebagai sesuatu yang negatif itu.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

The Best Payment Processor.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.